LB : ONE DAY
First time
Hari ini adalah hari dimana saya dan dia punya jadwal nonton dibioskop. Akhirnya, setelah sekian lama, kita pun bisa dapat seat juga dan kebetulan buy 1 get 1 free. Tujuan kita nonton kali ini adalah untuk menjernihkan pikiran sekaligus bermalam mingguan. Sedikit keluhan untuk satu minggu ini, jadwal kuliah kita banyak hancur berantakan dikarenakan dosen tidak bisa masuk dan banyaknya kegiatan kampus. Jadi, semua mata kuliah rata-rata pindah ke hari lain dan terpaksa full dari pagi sampai sore. Sebenarnya ini agak berat. Tapi ini juga demi ujian akhir semester (UAS). Karena syarat untuk mengikuti UAS yaitu minimal 14 kali kehadiran. Sedangkan saat ini, masih ada aja yang kehadiran nya hanya 50%.
skip//
Sesuai dengan judul blog “first time”, ada beberapa pertanyaan dibenak saya untuk saya sendiri. Pertama yang dipertanyakan adalah “kenapa saya menulis blog pada hari ini?”, kedua “kenapa perlu ditanyakan?”. Jawaban nya karena saya hanya menulis blog ketika ada sesuatu yang baik atau buruk terjadi, baik pada saya, keluarga atau teman dekat.
“Ada apa hari ini?”. Disini saya akan cerita sedikit tentang sesuatu yang sudah daritadi saya pendam.
Sore tadi, dia jemput saya sekitar jam 3. Saya yang awalnya sudah siap sedari jam 2, tiba-tiba ingin ke laundry. Karena saya tidak sempat cuci baju dan cuaca tidak mendukung. Kemudian, berganti bajulah saya karena baju yang saya pakai ingin saya laundry juga. Pulang dari laundry sekitar jam 3. Dengan posisi saya berbaju kaos lengan panjang. Karena doi sudah bilang otw, jadi saya bersiap-siap ganti baju dan segala macam. Jam 3 lewat doi datang dan saya masih dalam keadaan didepan kaca. Sekitar 20 menit saya mempercantik diri akhirnya kita berangkat. Saya yang pada waktu itu tidak tau jadwal nonton jam berapa, jadi saya merasa santai dan tidak terburu-buru. Sampai ke tkp jam 4 pas. Dan kita kebasahan karena hujan yang tiba-tiba datang tanpa permisi.
“ih basah (jilbab)” “aku giniin ya?” (model selempang)
“jangan, turunkan”
“ndak apa bah, ini bah basah.”
“turunkan. Jijik”
Karena saya tidak terima perkataan dia, akhirnya saya tusuk bahu nya dengan jarum pentul 2 kali.
“mulai (film) jam berapa”
“setengah 4”
Dalam pikiran saya masih setengah jam lagi alias jam 16.30. setelah beberapa menit…
(Di escalator)
“jam setengah 4 atau 5 sih?
“jam setengah 4 ye, jam 15.30. bukan setengah 5” *nada tinggi
Yang saya dengar dan saya lihat dia berbicara kasar sejak tadi. Saya tau dia terburu-buru, tapi pikiran saya masih saja teringat jam 16.30. akhirnya saya ke toilet dengan agak marah karena merasa dibentak. Padahal saya Cuma bertanya. Sekitar 10 menit, akhirnya kami menuju bioskop. Tanpa bicara, bertanya atau hanya sekedar memandang. Karena yang saya pikirkan adalah dia marah, saya pun marah. Bahkan saat dia salah jalan, saya diam saja. Tak ingin bicara. Sesampai di depan studio, ternyata pintu sudah ditutup dan tidak ada penjaga lagi. Jadi saya suruh dia untuk buka saja pintunya. Kami masuk dan duduk tanpa menyerahkan tiket. Saya masih marah, dan dia pun begitu.
Sepanjang nonton, saya sama sekali tidak fokus dengan jalan cerita film tsb. Walaupun saya membaca subtitle dari kata per kata, tetapi pikiran saya masih mengingat ucapan tadi. Ini ‘first time’ dia bentak saya dan ‘first time’ juga saya benar-benar sakit hati sampai nangis. Ini real, bukan lebay dibuat-buat. Nangis saya buka tersedu-sedu, namun menetes satu persatu. Saya tak ingin, namun apa daya mata saya tak bisa dikontrol lagi. Autonetes. Sakit sekali, setega itu dia sama saya. Apa tidak ada ucapan yang lebih halus lagi batin saya. Beberapa kali dia manggil saya, tapi saya abaikan. Karena setiap kali dia manggil, nada suara nya mengingatkan saya pada ucapan nya tadi. Dan akhirnya netes sudah. Tak mampu lagi dibendung. Hingga beberapa kali saya mengusap pipi diam-diam. padahal ucapan nya sepele, tapi sakit luar biasa.
Jujur saja, saya tidak bisa dibentak. Ada satu trauma yang dulu pernah saya alami hingga sekarang masih jelas di ingatan saya. Kata-kata, nada suara, raut wajah. Semuanya saya ingat. Bahkan mendengar nada tinggi sedikit saja, saya takut. Saya tau saya adalah orang yang pemarah. Suka teriak dan suka nyubit atau memukul. Namun, disamping itu saya selalu berkata “maaf” berkali-kali. Karena saya sungguh menyesal atas perbuatan yang saya ucapkan dan lakukan. Kata “maaf” sangat berarti bagi saya yang memiliki hati sensitive. Sekeji apapun perbuatan atau semenyakitkan apapun itu, saya akan luluh dengan kata “maaf”. Karena orang yang seperti itu saya anggap masih ada hal baik dalam dirinya walaupun sedikit.
“maaf” setiap hari saya ucapkan. Bukan candaan tapi sungguhan. Karena kita tidak tau kapan kita menyakiti orang lain dan kapan sesuatu yang buruk itu datang pada kita.
Teruntuk dia yang saya ceritakan dalam blog ini,
“saya minta maaf” –LB
Komentar
Posting Komentar